belajar dari goblin (ini bukan review)

Ini bukan review, karena menurut saya, seorang reviewer tu orang yang udah expert di bidangnya, dan saya belum merasa cukup ahli dalam per-dramaan korea. Hihihihi saya punya banyak teman yang lebih expert tempat saya bertanya tentang drama on going yang bisa saya tonton. Dan tentu kriteria bagus itu relatif dan lagi-lagi tergantung selera. Selera saya pun masih sama seperti kebanyakan, yang penting aktornya ganteng! Hahahaha saya masih golongan mainstream. Karena itu saya tekankan bahwa ini bukan review, ini hanya sebuah tulisan yang ingin saya share tentang beberapa hal yang saya peroleh dari menonton drama ini.

Drama yang baru selesai ditayangkan dan sedang rame dibacarakan adalah Goblin : The lonely and the great God. Bergenre fantasi tentang siluman, dewa, manusia dan tuhan. Menarik karena dari banyak drama korea yang selama ini saya tonton, Drakor minim sekali atau hampir tidak pernah menampilkan simbol-simbol agama apapun. Dan Goblin ini pun sama, gag ada simbol-simbol agama apapun (setidaknya agama yang saya kenal), tetapi di drama ini pertama kalinya saya paham bahwa orang korea tu juga percaya tuhan dan punya seperangkat keyakinan tentang tuhan, takdir, ikhtiar, neraka dan surga dan lain-lain.

Saya yakin didunia ini tidak ada orang yang benar-benar bisa menafikan adanya tuhan. Setiap orang yang mampu menggunakan akalnya pasti mampu memikirkan bahwa segala hal tidak mungkin terjadi secara kebetulan. Atheis atau apalah sebutan namanya untuk mereka yang tidak mengakui adanya tuhan, saya tidak yakin mereka benar-benar ada. Kalaupun mereka sungguh ada, saya yakin mereka adalah orang yang membohongi nurani mereka sendiri.

Jika tuhan kita artikan sebagai sosok yang memiliki kekuasaan tidak terbatas, memiliki kekuatan yang maha besar yang dapat mengendalikan segala sesuatu, yang memiliki kasih dan mengabulkan doa dan harapan, saya yakin tidak ada seorang pun yang tidak akan mengakui keberadaannya. Karena setiap orang pasti pernah berdoa. Berdoa pada siapapun, berdoa pada apapun, karena apapun itu yang kita yakini sebagai kekuatan maha besar itulah tuhan. Ketika seseorang begitu meyakini kekuatan uang, berharap uang dapat memecahkan segala persoalannya, maka ketika itu dia sudah menuhankan uang dalam hidupnya. Sama dengan orang-orang yang menuhankan batu besar, pohon besar dan lain-lain.

Kembali pada Goblin, dalam drama ini ditunjukkan bahwa seseorang yang tidak mengenal tuhan sekalipun ketika dalam keadaan sangat putus asa, berada diantara hidup dan mati, dia berdoa dengan penuh pengharapan pada siapapun, ya dalam drama itu dialognya begini, “siapapun, tolong selamatkan aku”. Dia menyebut siapapun, bahasa korea nya, Amuna, atau apalah pokoknya kedengarannya begitu. Dialog ini juga hampir sama ada dalam drama Its Okat Thats Love, ketika si mbak gong hyo jin itu menyalakan lilin, dan memejam mata, dia bilang bahwa dia sedang berdoa pada siapapun diatas sana untuk melindungi temannya. Mereka menyebutnya siapapun,

Ya, siapapun karena mungkin mereka tidak pernah dikenalkan pada tuhan sejak lahir, berbeda dengan saya, yang sudah dikenalkan dengan Allah itu nama tuhan saya sejak kecil, sehingga setiap berdoa pasti menyebutnya Allah atau asmaul husna yang lain, akan tetapi nama atau sebutan itu bukan substansi, tapi keyakinan dan kesadaran bahwa tuhan itu ada dan dia maha luar biasa dan tempat kita memohon pertolongan itu sejatinya substansi dari bertuhan. Ketika kita mengaku muslim tapi di hati dan pikiran kita masih dipenuhi dengan pengharapan pada yang lain, menurut saya itu malah yang salah. Drama ini seperti mengajak melakukan refleksi tentang bagaimana kita meyakini tuhan selama ini. Saya kembali menanyakan pada diri saya, jangan-jangan saya hanya beragama, tapi tidak sepenuhnya bertuhan.

Tuhan dalam Al Qur’an menyampaikan bahwa DIA menguji kita dengan musibah, masalah, badai atau apapun itu untuk menguji apakah kita beriman atau tidak. Apakah kita butuh DIA apa tidak. Saya akhirnya mulai memahami dan meyakini itu. Iya benar, dalam drama itu juga ditunjukkan memang tingkat kebutuhan tertinggi kita akan tuhan adalah ketika mendapat musibah. Saya juga merasa ketika sedang dalam masalah, sholat saya lebih khusyuk, sujud saya lebih lama, karena itu mulai sekarang semoga selalu diingatkan bahwa masalah, badai apapun itu bentuknya adalah ujian untuk meningkatkan keimanan kita pada tuhan. bukan malah lari pada yang lain.

Pelajaran penting selanjutnya dari drama ini adalah bahwa tuhan maha mengetahui segalanya, dan rencanaNya melampaui apa yang kita bayangkan. Selalu lebih baik untuk kita. Itu yang selalu kita sugestikan pada diri sendiri ketika apa yang kita mau tidak tergapai. Ada sebuah scene, si goblin menyihir dua orang laki-laki dan perempuan untuk saling jatuh cinta dan meninggalkan pasangannya masing-masing. Karena ternyata mereka memang penipu, jadi sihir itu sebenarnya untuk menyelamatkan pasangan mereka. Pada titik ini saya sadar, begitulah kadang tuhan bekerja. Kita dibuat ditinggalkan oleh seseorang yang memang tidak baik, dan menggantinya dengan yang lebih baik. Tapi kita alih-alih bersyukur, kebanyakan kan sibuk sedih dan kecewa, galau.

Masih banyak lagi pelajaran yang bisa diambil dari drama ini. Tentu positifnya. Menurut saya, menonton apapun kita harus bisa mengambil pelajaran yang bisa bikin kita lebih baik. Pernah sekali, saya nonton drama yang banyak sekali adegan minum air, di setiap scene pasti si aktor dan si aktris bawa gelas atau botol minum, akhirnya membuat saya ikut getol minum air. Hihihiii Sekali lagi ini bukan review. Have a good day!

Iklan

toleransi (hanya) dalam kata

Saya menemukan fakta menarik seputar pembelajaran. Saya adalah dosen di sebuah perguruan tinggi swasta di Jember. Dan semester ini, saya mengajar pada 3 kelas MKU untuk mata kuliah Pendidikan Agama Islam. Sebagai sebuah mata kuliah umum yang wajib diikuti oleh semua mahasiswa pada semester awal, mata kuliah PAI di Universitas lebih menekankan pada kemampuan menganalisis peserta didik terhadap isu-isu yang berkembang berkaitan dengan Islam. Walaupun sebenarnya tidak sepenuhnya tentang isu-isu up to date, karena faktanya PAI di Universitas tentu masih perlu membahas Apa pengertian  Aqidah, Syari’ah, Akhlak, etc. Tentu pengetahuan-pengetahuan tersebut yang terlebih dahulu menjadi bahan diskusi daripada isu-isu tentang HAM atau toleransi.

Minggu lalu ketiga kelas yang saya dampingi sampailah pada pembahasan tentang toleransi. Ketika saya tanyakan pada forum apa pengertian toleransi? Mereka menjawab, saling menghargai, saling menghormati, (persis sama dengan jawaban saya ketika SD dulu), oke, pertanyaan kedua, silahkan mulai dari belakang berurutan tolong anda sebutkan perilaku yang mencerminkan toleransi, hampir semua mahasiswa di kelas tersebut terlihat panik, mahasiswa satu, dua, tiga hingga giliran mahasiswa keempat, dia hampir mengulangi jawaban temannya sebelumnya, saya bilang, jawabannya tidak boleh sama. Seluruh kelas serentak menjawab, wah sulit kalau begitu bu. Dan akhirnya soal tersebut berhenti pada siswa kelima.

Keadaan mahasiswa tersebut akhirnya mengingatkan saya dengan jawaban murid les saya yang masih SD, saat ada soal sebutkan perilaku toleransi, hanya satu contoh yang dia sebutkan: saling menghargai.

Ya, pengetahuan kita tentang toleransi sebatas pada kata menghargai, semua contoh yang disebutkan oleh mahasiswa-mahasiswa saya pun sama, menghargai…, menghormati. Padahal seperti apa bentuk menghargai itulah sebenarnya esensi toleransi. Kita dari SD hanya diajari bahwa ketika mendengar kata toleransi pasti jawabannya, saling menghargai, saling menghormati. Dan saya yakin sekali kata-kata itu untuk anak SD adalah sebuah kata yang abstrak. Mereka tidak bisa mencernanya, apalagi memberi contoh, mungkin karena itu ketika dewasa kita juga belum bisa menyebutkan apa sebenarnya toleransi dan bagaimana bentuk kongkrit dari toleransi.

Kembali ke kelas tadi, akhirnya saya menyampaikan begini, contoh konkrit perilaku toleransi misalnya, saya menolong teman saya walaupun dia non muslim, saya meminjamkan pensil untuk teman saya yang batak, saya memaafkan teman saya yang marah/tersinggung dengan ucapan saya, saya membiarkan teman saya beribadah menurut keyakinannya, dan lain-lain tanpa ada kata “menghargainya”.

Dan kemudian terlihat mahasiswa saya mengangguk-angguk, entah mereka paham atau tidak.

Saya katakan, ayo kita ganti definisi toleransi dengan kata “membiarkan, mengizinkan, membolehkan” adanya perbedaan. Karena menurut kamus bahasa Indonesia memang kata-kata tersebut yang bisa digunakan. Daripada kata “menghargai dan menghormati” saya yakin kata-kata tersebut lebih bisa dipahami oleh anak-anak, apalagi mahasiswa.

Pendidikan kewarganegaraan, pendidikan moral, atau apalah namanya sebagai mata pelajaran yang sangat penting untuk anak-anak dalam kehidupan mereka di masyarakat sudah selayaknya dijauhkan dari kata-kata yang abstrak. Toleransi, tenggang rasa, rukun, dan beberapa kosakata yang lain sebaiknya diganti dengan kata-kata yang mudah dicerna, dekat dengan kehidupan mereka sebagai anak-anak. Jika tidak, mereka tidak akan benar-benar tau maksudnya dan perilaku yang harus ditunjukkan sebagai wujud dari kata-kata tersebut. akhirnya sampai besarpun mereka tidak paham.

Di sisi yang lain, Pendidikan moral, dan akhlak bukan pelajaran yang bisa dipelajari di bangku. Karena moral dan akhlak tentu bukan ranah kognitif tapi ranah perilaku dan nilai yang harus ditanamkan bahasa kerennya, internalisasi nilai. Tujuan mata pelajaran PKn di sekolah tentu ingin muridnya berperilaku sesuai nilai moral yang berkembang di masyarakat. Untuk itu tentu, guru, kepala sekolah dan semua pihak dalam sekolah, keluarga dan masyarakat harus bisa menjadi contoh. Akan tetapi ketika pihak-pihak tersebut belum bisa memberi contoh, alangkah baiknya walaupun sekedar pengetahuan, mereka paham definisi yang sebenarnya sehingga mampu membedakan mana perilaku toleran dan mana yang intoleran. Walau hanya dalam kata.

yoga dan dhuha

pagi adalah semangat, dan senja adalah perenungan. begitu kata budayawan sujiwo tedjo. dan saya merasakannya sekali betapa pagi adalah berkah dan anugerah yang tuhan berikan usai kita terlelap. hari baru semangat baru, dan harapan untuk cinta yang baru (hehe)

saya tinggal di sebuah desa terpencil di timur jawa, sebuah desa yang masih sangat asri. Jogging sambil menikmati udara yang sejuk dan pemandangan sawah yang hijau adalah pilihan yang tepat untuk mengawali pagi, bertemu para petani yang berangkat ke sawah menjadi penambah semangat saya tiap hari. kegiatan itu masih rutin saya lakukan hingga beberapa bulan yang lalu. tetapi beberapa minggu ini saya mulai rajin belajar banyak hal tentang Yoga. dari mulai download beberapa video gerakan yoga yang bisa dipraktikkan sendiri, membaca beberapa artikel tentang yoga, hingga sharing2 sama orang rajin yoga.

pagi adalah semangat, dan saya memilih memulai hari saya dengan yoga dan dhuha. yoga adalah cara kita menunjukkan betapa kita care dengan tubuh kita, gerakan-gerakan sederhana, slow motion kalo saya bilang daripada gerakan senam-senam yang lain, tapi selalu sukses membuat keringat berlebihan. yoga adalah perenungan, karena dalam setiap gerakannya kita diajak benar2 merasakan bagaimana tubuh kita bergerak. merenungi tubuh kita sendiri.memperhatikan tiap bagian dari tubuh kita.

sedangkan dhuha, adalah cara kita berterimakasih pada pencipta. berterimakasih sudah diberi lagi hari yang baru, yang bisa kita isi dengan segudang aktivitas. sekaligus meminta kesempatan untuk hidup lebih baik lagi. sebagai seorang yang percaya kalau segala sesuatu yang terjadi adalah campur tangan tuhan, saya merasa dhuha adalah kekuatan, dhuha adalah syukur, dan dhuha adalah janji saya pada tuhan untuk mengisi hari saya lebih baik lagi setiap harinya.

ada banyak sekali kegiatan yang bisa dilakukan untuk memulai hari, bagaimana kita memulainya saya yakin itu berpengaruh pada seharian aktivitas yang kita lakukan. jika kita awali dengan mengeluh, bisa aja seharian kita akan diberi banyak hal yang bisa dikeluhkan. so, gag ada salahnya awali dengan bersyukur, dengan tersenyum, agar seharian kita dikasi banyak hal yang membuat tersenyum dan bersyukur. katanya kalau kita berprasangka baik pada tuhan, tuhan akan sesuai dengan prasangka itu.

semoga bermanfaat, selamat beraktivitas!